Senin, 24 November 2014

TUGAS
APLIKASI KOMPUTER
“SEJARAH FLU BURUNG”
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGEzfIg5fSWpUNvvqdsNbQ10uLMkOKPeLpJVUiHrUe-eud6K3Ky-fzn55VAdqczCQiwRueJYsVHqbSOeAXR1mluvn6Dv-XRrVeucvSyw641zZ5zy1S3RBuw2kPj7u6ylESxUJR49AscwZc/s364/Copy+of+Lambang+Stikes..jpg
NAMA                        : ANDI WAHYUNI TENRI AJENG
NIM                            : NH0513005
KELOMPOK             : XII
PROGRAM DIPLOMA TIGA FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
Sejarah Flu Burung
Flu burung sebenarnya bukanlah penyakit yang baru, penyakit ini pertama kali ditemukan di Italia pada tahun 1878 oleh Perroncito. Saat itu Perroncito melaporkan adanya suatu penyakit menular yang menyerang unggas dengan kemampuan menyebar sangat cepat dan mengakibatkan jumlah kematian yang tinggi. Selanjutnya pada tahun 1880 Rivolto dan Dalpatro menyebutnya sebagai fowl plaque dan mereka menggunakan istilah typhus exudation gallinarum yang dalam perkembangannya kini disebut dengan istilah highly pathogenic aviant influenza (HPAI) atau yang dikenal sebagai penyakit flu burung. Sebutan fowl plaque adalah salah satu terminologi yang digunakan secara historis sewaktu awal mulanya penyakit ini ditemukan pada unggas piara spesies Gallus gallus domesticus, sedangkan HPAI merupakan sebutan yang lebih tepat secara ilmiah untuk semua jenis burung yang berarti penyakit influenza yang sangat patogen pada jenis aves. Selain fowl plaque ada juga istilah peste aviarie, geflugelpest, brunswick bird plaque, brunswick disease, fowl grippe, atau bird grippe.
Penyakit flu burung diketahui menyebar ke berbagai belahan dunia terutama Eropa sejak awal 1900-an, dimana awal penularannya terjadi melalui penyelenggaraan pemeran unggas, kemudian bersifat endemi pada unggas peliharaan sampai tahun 1930, sejak saat itu terjadi penyebaran yang semakin meluas sampai ke benua lain seperti Amerika, Afrika Utara, Timur Tengah, sampai Rusia. Penyebarannya yang luas membuat orang semakin serius mendalami penyakit ini, begitu pula dengan laporan-laporan penyakit yang ada, namun orang belum begitu peduli dengan ancaman virus ini hingga pada tahun 2002 virus ini menjangkit banyak orang di Hongkong-Cina dan menelan banyak korban jiwa.
Flu burung merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh virus avian influenza (H5N1) yang tergolong dalam kategori virus flu A yang artinya virus ini dapat menjangkit baik manusia maupun hewan serta memiliki kemampuan mutasi gen yang tinggi, hal itulah yang membuat virus ini sangat mudah menyebar dan sulit diberantas, bahkan oleh Office International des Epizooties (OIE), flu burung dimasukkan sebagai salah satu dari 15 penyakit hewan menular yang paling berbahaya. Hingga kini diketahui diketahui bahwa virus dapat menginfeksi manusia melalui aves, kucing dan manusia.
Wabah flu burung sangat merugikan masyarakat, selain dari segi kesehatan terutama dalam bidang ekonomi. Hal ini disebabkan karena wabah flu burung membuat orang menjadi takut mengkonsumsi daging ayam serta takut bepergian di daerah yang dinyatakan positif endemi flu burung, sehingga secara tidak langsung melumpuhkan sektor peternakan dan pariwisata di Negara tersebut, padahal jika dilihat dari data FAO pada tahun 2003 Asia tenggara termasuk Indonesia merupakan tempat peternakan unggas terbesar kedua terbesar didunia, sehingga bias dibayangkan berapa banyak kerugian yang akan diderita apabila sektor peternakan unggas ini lumpuh.
Di Indonesia flu burung muncul pada tahun akhir tahun 2003, dimana virus ini diduga masuk ke Indonesia melalui impor daging ayam yang dilakukan secara ilegal. Hingga tahun 2005 tercatat temuan kasus flu burung sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia dimana di Indonesia ditemukan 99 kasus dengan 79 kematian.
Faktor Penyebab Terjadinya Flu Burung
A. Faktor Intrinsik (Host)
Yang dimaksud dengan faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari host. Host sendiri merupakan adalah organisme tempat hidup agent tertentu yang dalam suatu keadaan menimbulkan penyakit pada organisme tersebut. Jika membicarakan masalah penyakit flu burung pada manusia maka host yang dimaksud adalah manusia. Faktor intristik pada flu burung diantaranya kekebalan tubuh (imunitas) dan pola pikir seseorang.
Flu burung sebenarnya tidak mudah menular dari hewan yang telah terinfeksi, namun jalan untuk penularan itu akan semakin mudah apabila seseorang itu berada dalam kondisi yang lemah dan tidak memiliki system imun yang baik, begitu pula dengan pola pikir orang yang masih tidak percaya dan terkesan meremehkan bahaya penyakit ini.
B. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik atau faktor lingkungan merupakan faktor diluar dari host itu sendiri. Faktor lingkungan ini dibagi menjadi tiga:
  1. Lingkungan Biologis
    Faktor lingkungan biologis pada penyakit flu burung yaitu agent. Agent merupakan sesuatu yang merupakan sumber terjadinya penyakit yang dalam hal ini adalah virus aviant influenza (H5N1). Sifat virus ini adalah mampu menular melalui udara dan mudah bermutasi. Daerah yang diserang oleh virus ini adalah organ pernafasan dalam, hal itulah yang membuat angka kematian akibat penyakit ini sangat tinggi.
  2. Lingkungan Fisik
    • Suhu
      Pada suhu lingkungan yang tidak optimal baik suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang pada saat itu sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap mudah tidaknya virus menjangkiti seseorang. Selain itu virus flu burung juga memerlukan suhu yang optimal agar dapat bertahan hidup.
    • Musim
      Faktor musim pada penyakit flu burung terjadi karena adanya faktor kebiasaan burung untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat pada saat musim dingin. Misalkan burung-burung yang tinggal di pesisir utara Cina akan bermigrasi ke Australia dan Asia Tenggara pada musim dingin, burung-burung yang telah terjangkit tersebut akan berperan menularkan flu burung pada hewan yang tinggal di daerah musim panas atau daerah tropis tempat burung tersebut migrasi.
    • Tempat Tinggal
      Faktor tempat tinggal pada penyakit flu burung misalnya apakah tempat tinggal seseorang dekat dengan peternakan unggas atau tidak, di tempat tinggalnya apakah ada orang yang sedang menderita flu burung atau tidak,
  3. Lingkungan sosial
    Faktor lingkungan sosial meliputi kebiasaan sosial, norma serta hukum yang membuat seseorang berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya kebiasaan masyarakat Bali yang menggunakan daging mentah yang belum dimasak terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai makanan tradisional. Begitu pula dengan orang-orang di eropa yang terbiasa mengkonsumsi daging panggang yang setengah matang atau bahkan hanya seperempat matang. Selain itu juga pada tradisi sabung ayam akan membuat risiko penyakit menular pada pemilik ayam semakin besar.
Perjalanan Alamiah Penyakit Flu Burung
A. Fase Suseptibel
Adalah fase dimana seseorang belum terjangkit suatu penyakit namun memiliki faktor-faktor pendukung yang kuat untuk menimbulkan penyakit. Pada penyakit flu burung misalnya fase suseptibelnya adalah dimana seseorang atau sekelompok orang yang tinggal bersama dengan hewan yang telah terjangkit flu burung serta menunjukkan perilaku berisiko untuk tertular seperti tidak menggunakan masker saat bersama hewan tersebut, tidak mencuci tangan sebelum makan setelah bersentuhan dengan hewan yang terjangkit, atau mengkonsumsi daging ayam yang tidak matang sempurna.
B. Fase Presimptomatis
Fase presimptomatis adalah keadaan dimana seseorang telah terjangkit suatu penyakit yang dalam hal ini adalah flu burung, telah mengalami perubahan secara patologis, namun orang tersebut belum menunjukkan gejala-gejala klinis. Pada fase ini terjadi fase inkubasi dari virus yaitu fase dimana agent telah masuk ke tubuh host sampai sejak terjadinya gejala pertama.
C. Fase Klinis
Fase klinis adalah keadaan dimana seseorang telah mengalami perubahan anatomis dan fungsional tubuh dengan munculnya gejala-gejala klinis. Adapun gejala-gejala dari host yang terjangkit flu burung adalah:
  1. Pada unggas/burung:
    • Pada betina yang sedang bertelur, telurnya memiliki cangkang yang tipis kemudian berhenti bertelur dengan cepat.
    • Nafsu makan berkurang
    • Diare dan sering minum
    • Terjadi perubahan warna pada jenger menjadi kebiru-biruan
    • Nafas cepat dan berbunyi
    • Pendarahan terlihat pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu terutama tulang kering pada kaki
  2. Pada manusia
    • Demam dimana suhu badan sekitar atau di atas 38°C
    • Sesak nafas
    • Batuk dan nyeri tenggorokan
    • Radang paru
    • Infeksi mata
    • Pusing
    • Mual dan nyeri perut
    • Muntah
    • Diare
    • Keluar lendir dari hidung
    • Tidak ada nafsu makan
  3. Fase Ketidakmampuan
    Fase ketidakmampuan adalah fase dimana telah muncul komplikasi-komplikasi akibat adanya penyakit flu burung. Pada fase ini orang akan memiliki dua kemungkinan, kemungkinan pertama yaitu sembuh, dan kemungkinan yang kedua adalah orang tersebut meninggal.
Upaya Pencegahan Serta Penanggulangan
A. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang orang yang berisiko terjangkit flu burung. Adapun bentuk pencegahan primer tersebut diantaranya:
  1. Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat luas, terutama mereka yang berisiko terjangkit flu burung seperti peternak unggas.
  2. Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari terjadinya kontak antara hewan dengan mikroorganisme yang dalam hal ini adalah virus flu burung, seperti dengan melakukan desinfeksi serta sterilisasi pada peralatan ternak yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme pada peralatan ternak sehingga tidak menjangkiti hewan.
  3. Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk meningkatkan kekebalannya. Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan HPAI (H5H2) inaktif dan vaksin rekombinan cacar ayam atau fowlpox dengan memasukan gen virus avian influenza H5 ke dalam virus cacar.
  4. Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal.
  5. Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju lengan panjang, celana panjang dan sepatu boot saat memasuki kawasan peternakan.
  6. Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan untuk membunuh virus yang terdapat dalam daging ayam, karena dari hasil penelitian virus flu burung mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.
  7. Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan yang positif ditemukan virus flu burung pada ternak dalam jumlah yang banyak.
  8. Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai maupun sudah positif terjangkit flu burung.
  9. Melakukan surveilans dan monitoring yang bertujuan untuk mengumpulkan laporan mengenai morbilitas dan mortalitas, laporan penyidikan lapangan, isolasi dan identifikasi agen infeksi oleh laboratorium, efektivitas vaksinasi dalam populasi, serta data lain yang gayut untuk kajian epidemiologi.
B. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan pengobatan tepat. Dengan melakukan deteksi dini maka penanggulangan penyakit dapat diberikan lebih awal sehingga mencegah komplikasi, menghambat perjalanannya, serta membatasi ketidakmampuan yang dapat terjadi. Pencegahan ini dapat dilakukan pada fase presimptomatis dan fase klinis. Pada flu burung pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan screening yaitu upaya untuk menemukan penyakit secara aktif pada orang yang belum menunjukkan gejala klinis. Screening terhadap flu burung misalnya dilakukan pada bandara dengan memasang alat detektor panas tubuh sehingga orang yang dicurigai terjangkit flu burung bias segera diobati dan dikarantina sehingga tidak menular pada orang lain.
C. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk membatasi ketidakmampuan. Pada flu burung upaya pencegahan tersier yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengobatan intensif dan rehabilitasi.
http://sintanauli.files.wordpress.com/2007/12/flu-burung-1.jpg
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ana Puji Astuti dan Setyoningsih.Panduan Pembelajaran Pendidikan Sosiologi 1 SMA dan MA(Pati,2011),hal13
[2] Ana Puji Astuti dan Setyoningsih.Loc Cit1
[3] http://www.news-medical.net/health/what-is-bird-(H5N1)-(Indonesia).aspx
[4] http://fluburung.org/cara-cara-penularan-flu-burung.asp
[5] Nurheti Yuliarti.Mengingkap Rahasia Penyakit Flu Burung,Yogyakarta,2006,hal.13
[6] Ibid,hal.31
[7] http://fluburung.org/pengobatan-flu-burung.asp

Deteksi Dini dan Pengobatan Flu Burung

Flu burung atau flu unggas atau avian influenza, pada umumnya tidak menyerang manusia. Beberapa tipe terbukti dapat menyerang manusia atau suatu tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia, penyakit mematikan ini telah menjadi pandemi di dunia. Mulai timbul kepanikan di beberapa negara ketika wabah tersebut menyebabkan kematian yang sangat cepat dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate) lebih dari 80% .
Penyakit flu burung tercatat pertama kali diidentifikasi di Italia lebih dari 100 tahun lalu. Mulanya, penyakit ini adalah penyakit hewan yang menyerang bangsa unggas. Flu burung atau sampar unggas (fowl plaque) adalah penyakit virus yang menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam, kalkun, merpati, unggas air, burung-burung piaraan, hingga ke burung-burung liar. Virus ini juga didapatkan pada babi, kuda, dan binatang laut menyusui seperti ikan paus dan anjing laut. Terakhir terungkap virus H5N1 ini telah diidentifikasi pada harimau, kucing dan macan tutul. Sebelumnya binatang ini tidak dianggap sebagai bianatang yang dapat dicemari virus flu burung. Babi juga dapat tertular dan sebagai perantara penularan ke manusia. Belakangan terungkap virus bukan hanya menempel di kulit, tetapi dibiakkan dan bermutasi di peredaran darah binatang babi

A. Masa Inkubasi 
- Pada Unggas : 1 minggu
- Pada Manusia : 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari.

B. Penularan
Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas kemanusia, melalui air liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung. Contohnya: pekerja di peternakan ayam , pemotong ayam dan penjamah produk unggas lainnya.

C. Penyebaran
Penyebaran flu burung di berbagai belahan dunia antara lain.
1. Ayam dan manusia di Hongkong. Selama wabah tersebut Pada tahun 1997 Avian Influenza A (H5N1) telah menginfeksi berlangsung 18 orang telah dirawat di rumah sakit dan 6 diantaranya meninggal dunia. Untuk mencegah penyebaran tersebut pemerintah setempat memusnahkan 1,5 juta ayam yang terinfeksi flu burung.
2. Pada tahun 1999, di Hongkong dilaporkan adanya kasus Avian Influenza A (H9N2) pada 2 orang anak tanpa menimbulkan kematian. 
3. Pada tahun 2003, di Hongkong ditemukan lagi dua kasus Avian Influenza A (H5N1) dan satu orang meninggal.
4. Pada tahun 2003, di Belanda ditemukan 80 kasus Avian Influenza A (H7N7) dan satu diantaranya meninggal. 
5. Pada tahun 2004 terjadi lagi 25 kasus Avian Influenza A (H5N1) di Vietnam (19) dan Thailand (6) yang menyebabkan 19 orang meninggal (5 di Thailand, 14 di Vietnam) 

D. Pengobatan
Pengobatan bagi penderita flu burung adalah. 
1) Oksigenasi bila terdapat sesak napas. 
2) Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus).
3) Pemberian obat anti virus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 7 hari.
4) Amantadin diberikan pada awal infeksi, sedapat mungkin dalam waktu 48 jam pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari. 


E. Pemeriksaan laboratorium
Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus flu burung atau bukan, perlu pemeriksaan laboratorium secara bertahap. Awalnya, pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah penyebabnya virus atau bakteri. 

Dari pemeriksaan ini akan terlihat jumlah sel-sel darah putih (leukosit) yang ada dalam darah. Jika jumlah leukosit tinggi, maka diperkirakan penyebabnya bakteri. Jika jumlah sel darah putih justru menurun dari normal, maka diperkirakan penyebabnya adalah virus.    
Begitu diketahui penyebabnya bakteri, maka pengobatan dengan antibiotika pun segera diberikan. Pengobatan ini untuk  mencegah infeksi menyebar sampai ke saluran napas bagian bawah, yang bisa menyebabkan radang paru (pneumonia).

Jika penyebabnya virus, maka perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui jenis virusnya. Repotnya, pemeriksaan untuk mengetahui virus flu burung cukup makan waktu. Padahal, pengobatan untuk infeksi akibat flu burung harus dilakukan dengan cepat. Nah, di sinilah repotnya. 

Mengingat saat ini influensa akibat virus influensa H5N1 pada unggas sedang mewabah, maka biasanya tenaga medis tidak saja memeriksa gejala penyakit, tapi juga lingkungan dan kegiatan pasien. Pada pasien akan ditanyakan apakah belakangan ini ada kontak dengan binatang/unggas atau dengan penderita flu burung.  

Mengingat gejalanya bervariasi, gejala yang biasanya paling dicurigai adalah, suhu tubuh meningkat (di atas 38,5º C),  sakit tenggorokan, dan pilek. Bila dari pemeriksaan laboratorium dicurigai sel darah putih menurun, maka dokter akan memberi obat tamiflu. Harapannya, agar virus itu dapat dicegah dan tidak berekspansi ke saluran pernapasan bagian bawah.  

Yang bisa membuat rancu adalah, jika infeksi virus influensa H5N1 sudah masuk ke saluran pernapasan bagian bawah dan menyebabkan radang pneumonia di paru. “Dalam keadaan seperti ini, bukan tak mungkin pneumonianya juga ditumpangi oleh bakteri, sehingga dari hasil pemeriksaan darah bisa saja terlihat jumlah sel darah putihnya meningkat,” ujar dr. Martin Rumende.  

Kalaupun hasil pemeriksaan awal diketahui infeksi disebabkan oleh virus, namun pemeriksaan laboratorium awal itu masih belum bisa memastikan apakah seseorang memang benar-benar terinfeksi flu burung. Sebab, untuk itu memastikannya perlu langkah pemeriksaan lebih lanjut yang tak dapat dilakukan di sembarang tempat.

“Jika suhu tubuh tinggi lebih dari 2 hari dan leukosit semakin menurun, sebaiknya segera periksa hapusan jaringan lendir di hidung atau mulut (dengan mengoles selaput lendir hidung atau mulut memakai kapas khusus) untuk dikirim ke laboratorium milik Litbangkes (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Departemen Kesehatan RI di Jakarta,” jelas dr. Martin Rumende.  Pemeriksaan ini butuh waktu berhari-hari (jika pasien banyak, berarti juga harus antre) dan tidak dapat dilakukan di tempat lain. 

Jadi, tak heran jika pasien sudah meninggal pun belum bisa dipastikan apakah penyebabnya virus flu burung atau bukan. Di lain pihak, bukan tak mungkin, dengan gejala yang sama, ternyata pasien meninggal akibat pneumonia yang disebabkan oleh bakteri, yang kebetulan tidak ditangani dengan baik.  
    
Tetap waspada. Dalam kondisi wabah seperti ini, kita tak boleh dan tak perlu panik. “Yang penting, waspadai gejala dan lingkungan kita. Misalnya, jika tubuh merasakan gejala yang mirip flu, tak ada salahnya kita mengingat kegiatan kita belakangan ini. Apakah ada kontak dengan unggas, terutama unggas yang sakit, atau, kontak dengan penderita flu burung lainnya. Dari dugaan semacam itu dokter akan dapat melakukan tindakan dan diagnosa yang sesuai.
Seperti kita tahu, vaksin flu burung belum ditemukan. Tapi bukan berarti tak ada yang bisa dilakukan, bukan? Kewaspadaan Anda sangat diperlukan. Bukan saja dengan menghindari kontak dengan unggas yang sakit dan mengimunisasi peliharaan di rumah, tetapi juga tidak boleh lepas dari menjalani gaya hidup sehat. Yaitu, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga dan istirahat yang cukup. Daya tahan tubuh yang tangguh adalah kunci ampuh melawan berbagai kuman penyakit.


NAMA : LILY ASVIKA HERNALIAH
NIM : NH0513050
KELOMPOK : 12

CARA PENCEGAHAN FLU BURUNG



CARA PENCEGAHAN FLU BURUNG :
  1. Menghindari menyentuh burung atau pun unggas serta kotorannya pula. Kotoran burung serta unggas yang terinfeksi dapat membawa virus. Bila kita terlanjur menyentuhnya segeralah mencuci kedua tangan dengan sabun cair dan bilas dengan air mengalir.
  2. Masak makanan dari produk unggas dengan suhu yang tinggi. Hal ini dilakukan karena virus H5N1 mati dalam suhu yang tinggi. Contohnya adalah masak daging ayam dalam suhu 80 derajat selama 1 menit. Untuk telur ayam masak dengan suhu 64 derajat selama 5 menit.
  3. Melakukan diet yang seimbang dan sehat. Selain itu dengan melakukan olahraga yang rutin, istirahat tidur yang cukup dan baik serta juga mengurangi stress. Dengan melakukan hal-hal tersebut di atas maka tubuh akan mempunyai daya tahan yang baik dan tidak mudah terserang berbagai macam influenza.
  4. Bila mengalami tanda gejala flu dan berada dalam lingkungan yang dicurigai ada tanda penyebaran virus ini maka segera periksa ke pelayanan kesehatan dan juga dokter. Kita juga harus mengetahui akan tanda ciri unggas terindikasi virus flu burung seperti halnya keluar cairan dari mata dan hidung, jengger kulit kaki yang tidak ditumbuhi rambut berwarna biru keunguan, perdarahan di bawah kulit unggas yang terkena dan lain-lain.
  5. Bila dalam suatu daerah yang rawan akan penyebaran virus ini ini maka salah satu tips mencegah flu burung adalah dengan menggunakan masker. Karena masker ini bisa melindungi mulut dan hidung pula.
  6. Peternakan unggas sebaiknya jauh dari tempat pemukiman warga masyarakat. Membersihkan secara rutin dan teratur untuk mengantisipasi adanya penyebaran virus tertama dari unggas-unggas yang liar.
  7. Menjaga kebersihan lingkungan baik itu lingkungan diri sendiri atau pun lingkungan masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan kita membiasakan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun terutama pada sebelum makan dan kebiasaan-kebiasaan hidup sehat lainnya.
  8. Bila yang bepergian keluar negeri maka sekembalinya dari negara yang dilaporkan adanya wabah flu burung dan kita megalami demam dan gangguan pernafasan maka segera periksa dan konsultasikan ke Dokter agar bisa diidentifikasi lebih jelas lagi. Karena tanda gejala virus flu burung ini diantaranya yaitu demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius), sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri tenggorokan, sesak nafas, ada riwayat kontak dengan unggas yang sakit atau pun mati mendadak tanpa sebab yang jelas.

NAMA         : DARLISA EKA SARLY
NIM            : NH0513015
 

Gejala Manusia dan Unggas yang Terkena Flu Burung

GEJALA FLU BURUNG PADA MANUSIA DAN UNGGAS

A.       Gejala pada Manusia
Virus Flu Burung yang pada awalnya diketahui hanya bisa menular antar sesama unggas, menciptakan mutasi baru yang dapat juga menyerang manusia. Mutasi virus ini dapat menginfeksi manusia yang berkontak langsung dengan sekresi unggas yang terinfeksi. Manusia yang memiliki resiko tinggi tertular adalah anak-anak, karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah, pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas, serta pemilik unggas peliharaan rumahan.
Masa inkubasi virus adalah 1-7 hari dimana setelah itu muncul gejala-gejala seseorang terkena flu burung adalah dengan menunjukkan ciri-ciri berikut :
  1. Menderita ISPA
  2. Timbulnya demam tinggi (> 38 derajat Celcius)
  3. Sakit tenggorokan yang tiba-tiba
  4. Batuk, mengeluarkan ingus, nyeri otot
  5. Sakit kepala
  6. Lemas mendadak
  7. Timbulnya radang paru-paru (pneumonia) yang bila tidak mendapatkan penanganan tepat dapat menyebabkan kematian
Mengingat gejala Flu burung mirip dengan flu biasa, maka tidak ada yang bisa membedakan flu burung dan flu biasa. Jika ada penderita yang batuk, pilek dan demam yang tidak kunjung turun, maka disarankan untuk segera mengunjungi dokter atau rumah sakit terdekat.
Penderita yang diduga mengidap virus Flu burung disebut penderita suspect flu burung dimana penderita pernah mengunjungi peternakan yang berada di daerah yang terjangkit flu burung, atau bekerja dalam laboratorium yang sedang meneliti kasus flu burung, atau berkontak dengan unggas dalam waktu beberapa hari terakhir.
Kasus probable adalah kasus dimana pasien suspek mendapatkan hasil tes laboratorium yang terbatas hanya mengarah pada hasil penelitian bahwa virus yang diderita adalah virus jenis A, atau pasien meninggal karena pneumonia gagal.
Sedangkan kasus kompermasi adalah kasus suspek atau probable dimana telah didukung dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan bahwa virus flu yang diderita adalah positif jenis H5N1, PCR influenza H5 positif dan peningkatan antibody H5 membesar 4 kalinya.
Namun, gejala yang dimunculkan oleh virus H5N1 ini berbeda-beda dimana ada kasus seorang anak laki-laki yang terinfeksi virus H5N1 yang mengalami diare parah dan diikuti dengan koma panjang tanpa mengalami gejala-gejala seperti influenza, oleh karena itu pemeriksaan secara medis penting dilakukan terutama bila mendapati timbulnya gejala penyakit yang tidak wajar.
B.       Gejala Unggas Terinfeksi Flu Burung
Penularan flu burung yang dibawa oleh unggas liar kepada unggas ternak menjadi momok tersendiri oleh para peternak. Belum juga hilang bayangan ketakutan akan tertularnya diri sendiri dan keluarga oleh keganasan virus flu burung, peternak juga dibayangi kerugian akan matinya unggas-unggas peliharaan mereka. Sebelum flu burung menggemparkan dunia sejak ditemukan pada tahun 1997 di Hong Kong, telah banyak penyakit muncul pada unggas yang di Indonesia sempat dikenal dengan penyakit New Castle dan Tetelo. Namun karena tidak menular kepada manusia, kedua penyakit tersebut tidak menjadi pandemik yang ditakutkan.
Penyakit flu burung ditularkan baik ke sesama unggas ataupun spesies lainnya dan manusia melalui kotoran burung. Satu tetesan sekresi dari burung yang terinfeksi mengandung virus yang dapat membunuh 1 juta burung. Virus ini kemudian menempel pada berbagai media seperti sarana transprotasi ternak, peralatan kandang yang tercemar, pakan dan minuman unggas yang tercemar, pekerja di peternakan dan burung-burung liar.
Untuk mengenali unggas yang terinfeksi flu burung, anda dapat mengenali dari gejala klinis yang ditemukan pada unggas tersebut yaitu :
  1. Jengger dan pial yang bengkak dan berwarna kebiruan
  2. Pendarahan yang rata pada kaki unggas berupa bintik-bintik merah (ptekhi) biasa disebut dengan kaki kerokan
  3. Adanya cairan di mata dan hidung serta timbul gangguan pernafasan
  4. Keluarnya cairan jernih hingga kental dari rongga mulut
  5. Timbulnya diare berlebih
  6. Cangkang telur lembek
  7. Tingkat Kematian yang tinggi mendekati 100% dalam 2 hari hingga 1 minggu
Flu burung terdengar sangat mengerikan, mengingat banyak korban jiwa yang sudah jatuh karenanya. Mengetahui tentang mekanisme penularan sebuah penyakit akan membuat kita jauh lebih waspada akan penyakit tersebut. Dengan mengetahui secara detail tentang penularan penyakit flu burung, kita akan bisa mengetahui cara-cara untuk menghindarinya dengan tepat, tanpa membuat aksi yang berlebihan. Berikut ini cara-cara penularan flu yang disebabkan oleh virus H5N1 ini.
  1. Secara garis besar, kita pasti mengetahui bahwa kontak langsung dengan sumber penyakit akan membuat kita terjangkit. Hal yang sama juga berlaku pada penyakit flu burung. Berdasarkan pendapat para ahli, disimpulkan bahwa vektor utama penyakit ini adalah unggas. Bersentuhan langsung dengan unggas yang sakit, atau produk dari unggas sakit tersebut akan membuat Anda tertular. Pencegahan yang dilakukan hanya bisa dilakukan dengan membakar bangkai hewan tersebut. Akan tetapi, metode pembakaran yang digunakan harus tepat guna mencegah asap dan material lain tersebar ke tempat lain. Material-material tersebut masih memiliki potensi menularkan virus H5N1. Cara yang dianggap lebih efektif adalah dengan mengubur bangkai ternak tersebut dalam-dalam.
  2. Media lain untuk menularkan penyakit flu burung ini adalah lingkungan sekitar. Jika Anda tinggal di sekitar kandang ternak unggas, atau memiliki burung peliharaan yang tiba-tiba mati, waspadalah. Udara sekitar kandang sangat mengandung berbagai material yang ada dalam kotoran ternak. Jika unggas terjangkit virus H5N1, bisa dipastikan bahwa udara sekitar sudah mengandung virus flu burung tersebut. Udara dan peralatan yang tercemar kotoran ternak unggas akan menjadi media perantara penularan virus H5N1 yang sangat baik.
  3. Penularan flu burung juga dapat terjadi dengan perantara manusia. Akan tetapi, disinyalir penularan lewat manusia merupakan media yang sangat tidak efektif. Kasus penularan lewat manusia sangat jarang terjadi. Virus H5N1 berbeda karakter dengan virus H1N1 penyebab flu babi yang sangat efektif ditularkan lewat manusia. Meski begitu, tetaplah waspada jika Anda berada didekat pasien flu burung.
  4. Cara lain penularan flu burung adalah melewati produk dari ternak unggas. Sebagian orang memilih mengkonsumsi produk unggas mentah atau tidak dimasak sempurna. Fillet ayam, telur mentah dan beragam produk mentah unggas dapat menjadi media menularkan virus H5N1 pada pengkonsumsinya. Virus flu burung ini akan mati apabila produk unggas tersebut dimasak secara sempurna (benar-benar matang).Mengkonsumsi daging setengah matang dan telur setengah matang masih berpeluang terjangkit virus flu burung ini jika unggas yang dipotong sudah terjangkiti oleh virus ini. Untuk itu, jika Anda akan mengkonsumsi unggas yang berasal dari daerah yang dicurigai terjangkiti virus H5N1, pastikan daging atau telur unggas tersebut dimasak hingga benar-benar matang hingga aman untuk dikonsumsi

NAMA          : SYARIFAH KHAERUNNISA
NIM             : NH0513100