Flu
Burung: Takut ???
Deteksi
Dini dan Pengobatannya
·
A.
Definisi
Flu burung atau flu unggas atau avian influenza, pada
umumnya tidak menyerang manusia. Beberapa tipe terbukti dapat menyerang manusia
atau suatu tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang
manusia, penyakit mematikan ini telah menjadi pandemi di dunia. Mulai timbul
kepanikan di beberapa negara ketika wabah tersebut menyebabkan kematian yang
sangat cepat dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate) lebih dari 80% .
Penyakit flu burung tercatat pertama kali diidentifikasi di
Italia lebih dari 100 tahun lalu. Mulanya, penyakit ini adalah penyakit hewan
yang menyerang bangsa unggas. Flu burung atau sampar unggas (fowl plaque)
adalah penyakit virus yang menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam,
kalkun, merpati, unggas air, burung-burung piaraan, hingga ke burung-burung
liar. Virus ini juga didapatkan pada babi, kuda, dan binatang laut menyusui
seperti ikan paus dan anjing laut. Terakhir terungkap virus H5N1 ini telah
diidentifikasi pada harimau, kucing dan macan tutul. Sebelumnya binatang ini tidak
dianggap sebagai bianatang yang dapat dicemari virus flu burung. Babi juga
dapat tertular dan sebagai perantara penularan ke manusia. Belakangan terungkap
virus bukan hanya menempel di kulit, tetapi dibiakkan dan bermutasi di
peredaran darah binatang babi.
B. Penyebab dan cara penularan pada
manusia
Penyebab burung pada bangsa unggas itu adalah virus
influenza tipe A, virus menakutkan ini adalah termasuk family Orthomyxoviridae
dari genus Influenza. Ukuran diameter Virions adalah 80 hingga 120 nm yang berbentuk
filament. Susunan virus terdiri dari 8 segmen berbeda dari negative-stranded
RNA, subtipe H5 dan H7 virus flu burung adalah yang menyebabkan wabah dengan
tingkat kematian tinggi (patogenik). Hanya ada satu galur dari virus flu burung
yang tingkat kemampuan mematikannya tinggi atau high-pathogenic avian influenza
(HPAI) H5N1 yang dapat menginfeksi manusia (zoonosis), menurut beberapa ahli
flu burung lebih berbahaya dari SARS. Karena kemampuan virus yang mampu
membangkitkan hampir keseluruhan respon bunuh diri dalam sistem imunitas tubuh
manusia.
Dari hasil studi yang ada menunjukkan, unggas yang sakit
oleh Influenza A atau virus H5N1 dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar
dalam kotorannya, virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada
suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Di
dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama.
Virus ini mati pada pemanasan 56 derajat Celcius dalam 3 jam atau 60 derajad
celcius selama 30 menit. Bahan disinfektan fomalin dan iodine dapat membunuh
virus menakutrkan ini.
Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas.
Burung yang terinfeksi virus akan mengeluarkan virus ini melalui saliva (air
liur), cairan hidung, dan kotoran. Avian Virus influenza avian dapat ditularkan
terhadap manusia dengan 2 jalan. Pertama kontaminasi langsung dari lingkungan
burung terinfeksi yang mengandung virus kepada manusia, cara lain adalah lewat
perantara binatang babi. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau
melalui saluran pernapasan.
Flu burung dapat menyebar dengan cepat diantara populasi
unggas dengan kematian yang tinggi, penyakit ini dapat juga menyerang manusia,
lewat udara yang tercemar virus itu. Belum ada bukti terjadinya penularan dari
manusia ke manusia, juga belum terbukti adanya penularan pada manusia lewat
daging yang dikonsumsi. Orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu
burung adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas. Sebagian
besar kasus manusia telah ditelusuri pada kontak langsung dengan ayam yang
sakit.
C. Manifestasi klinis
Tampilan klinis manusia yang terinfeksi flu burung
menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa, diawali dengan demam, nyeri otot,
sakit tenggorokan, batuk dan sesak napas. Adanya kontak dalam 7 hari terakhir
dengan unggas di peternakan terutama jika unggas tersebut menderita sakit atau
mati. Dalam perkembangannya kondisi tubuh sangat cepat menurun drastis. Bila
tidak segera ditolong, korban bisa meninggal karena berbagai komplikasi,
komplikasi yang mengancam jiwa adalah mengakibatkan gagal napas dan gangguan
fungsi tubuh lainnya.
Flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12
tahun, hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena
sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat. Masa inkubasi penyakit,
dimana saat mulai terpapar virus hingga mulai timbul gejala sekitar 3 hari.
Sebagian besar penderita mengalami produksi dahak yang meningkat, di antaranya
dahak bercampur darah. Diare dialami oleh sebagian besar penderita. Semua
penderita mengalami kelainan pada pemeriksaan hasil foto roentgen saat pertama
kali masuk Rumah Sakit. Semua penderita menunjukkan limpopenia dan sebagian
besar penderita mengalami trombositopeni.
Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan
laboratorium. Dikatakan diduga mengalami infeksi virus influenza A(H5N1) atau
Probable Case, bila didapatkan antibodi spesifik spesimen serum. Diagnosis
Pasti bila hasil biakan virus positif Influenza A (H5N1) atau hasil pemeriksaan
PCR positif untuk influenza H5. Peningkatan titer antibodi spesifik H5 sebesar
> 4 kali dan hasil dengan IFA positif untuk antigen H5 juga merupakan
petanda diagnosis pasti. Menurut kesepakatan internasional, serangan virus flu
burung baru dipastikan setelah ada hasil pemeriksaan dari laboratorium rujukan
WHO.
D. Gejala
- Gejala penyakit flu burung yang pertama adalah Batuk.
- Demam Tinggi.
- Diare.
- Keluhan Pada Pernapasan.
- Keluhan Pada Perut.
- Merasakan Sakit Kepala dan Pusing.
- Merasakan Mual dan Muntah.
- Penurunan Berat Badan.
- Radang Tenggorokan.
- Radang Paru – paru.
- Sulit Makan.
E. Pengobatan dan pencegahan
Seperti penyakit virus lainnya, sebenarnya penyakit ini
belum ada obat yang efektif. Penderita hanya akan diberi untuk meredakan gejala
yang menyertai penyakit flu itu, seperti demam, batuk atau pusing. Obat-obatan
itu hanya meredam gejalanya, tapi tidak mengobati. Tetapi Food and Drug
Administration (FDA) Amerika Serikat telah merekomendasikan 4 jenis obat
antiviral untuk pengobatan dan pencegahan influenza A.
Jenis obat tersebut diantaranya adalah M2 inhibitors
(amantadine and rimantadine) dan neuraminidase inhibitors (oseltamivir and
zanimivir). Kadangkala beberapa galur virus influenza menjadi resisten terhadap
satu atau lebih jenis obat tersebut. Misalnya, virus influenza A (H5N1) yang
berhasil diidentifikasi dari penderita di Asia tahun 2004 – 2005 ternyata
resisten terhadap obat amantadine dan rimantadine.
Orang yang berisiko mendapat flu burung atau yang terpajan
harus mendapat pencegahan dengan oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 1
minggu. Jika vaksin untuk flu burung ini telah tersedia, dapat diberikan pada
semua orang yang diduga kontak dengan unggas atau peternakan unggas yang
terinfeksi dengan avian influenza (H5N1).
Orang yang diindikasikan kontak khususnya orang yang
bertugas memisahkan unggas yang sakit atau yang terlibat dalam pemusnahan
unggas dan orang yang hidup dan bekerja di peternakan unggas dimana telah
dilaporkan terdapat atau dugaan H5N, tenaga kesehatan yang menangani kasus
influenza H5N1 pada manusia dan tenaga kesehatan yang bekerja pada sarana
pelayanan darurat di daerah terjadinya influenza H5N1 pada burung juga dianggap
orang yang beresiko.
Sejauh ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah
penyakit flu burung galur H5N1 pada manusia. Beberapa ahli di berbagai negara
maju telah melakukan penelitian untuk menemukan vaksin untuk tersebut. WHO
bersama Global Influenza Surveillance Network saat ini mengembangkan prototip
virus H5N1 untuk mengungkap lebih jauh penemuan vaksin tersebut. Hingga
sekarang belum ada vaksin yang tepat untuk influenza, termasuk avian influenza.
Karena waktu perubahan mutasi virus sangat singkat yakni
dalam kurun waktu tiga tahun, perubahan cepat model virus inilah yang menyebabkan
para peneliti kesulitan untuk menemukan antiviral yang efektif jangka panjang.
Vaksin prototip virus yang telah ditemukan dan dikembangkan tahun 2003 ternyata
tidak dapat digunakan lagi, pada evaluasi awal tahun 2004 ternyata virus telah
bermutasi secara bermakna.
Pencegahan umum penyakit ini adalah mengurangi kontaminasi
dengan binatang, bahan dan alat yang dicurigai tercemar virus. Tahapan
Kewaspadaan Universal Standar perlu dilakukan untuk tindakan tersebut.
Diantaranya adalah cuci tangan dilakukan di bawah air mengalir dengan
menggunakan sabun dan sikat selama kurang lebih 5 menit, yaitu dengan menyikat
seluruh permukaan telapak tangan maupun punggung tangan. Hal ini dilakukan
sebelum dan sesudah memeriksa penderita atau kontak dengan unggas yang dicurigai
terinfeksi. Pakaian yang digunakan adalah pakaian bedah atau pakaian sekali
pakai. Memakai masker N95 atau minimal masker bedah.Menggunakan pelindung wajah
atau kaca mata goggle, apron atau gaun pelindung, sarung tangan, pelindung kaki
atau sepatu boot.
Menghadapi masalah timbulnya flu burung di Indonesia,
sebaiknya masyarakat tidak terlalu panik. Masyarakat dalam beberapa tahun
terakhir ini telah menghadapi banyak cobaan masalah kesehatan yang tidak kalah
ganasnya, seperti DBD, SARS dan Poliomielitis. Berbekal pengalaman itu, dengan
kewaspadaan, tawakal dan berusaha keras menggunakan pola hidup sehat, ternyata
keadaan yang mengkawatirkan itu akhirnya dapat dilalui.
FLU_BURUNG
DAFTAR PUSTAKA
Capernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGC .
Marilynn E. doenges, Mary
Frances Moorhouse, Alice C. Geissler, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit
Buku Kedokteran: Jakarta.
Http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/06/askep-flu-burung.html.
Http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Keluarga/Gizi+dan+Kesehatan/flu.burung.tak.perlu.panik/001/001/223/1
Http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Keluarga/Gizi+dan+Kesehatan/flu.burung.tak.perlu.panik/001/001/223/1
KELOMPOK 12
ANDI WAHYUNI TENRI AJENG
DARLISA EKA SARLY
LILY ASVIKA
RISKA MULIANI
SYARIFAH KHAERUNNISA



Tidak ada komentar:
Posting Komentar