Senin, 24 November 2014

TUGAS
APLIKASI KOMPUTER
“SEJARAH FLU BURUNG”
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGEzfIg5fSWpUNvvqdsNbQ10uLMkOKPeLpJVUiHrUe-eud6K3Ky-fzn55VAdqczCQiwRueJYsVHqbSOeAXR1mluvn6Dv-XRrVeucvSyw641zZ5zy1S3RBuw2kPj7u6ylESxUJR49AscwZc/s364/Copy+of+Lambang+Stikes..jpg
NAMA                        : ANDI WAHYUNI TENRI AJENG
NIM                            : NH0513005
KELOMPOK             : XII
PROGRAM DIPLOMA TIGA FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
Sejarah Flu Burung
Flu burung sebenarnya bukanlah penyakit yang baru, penyakit ini pertama kali ditemukan di Italia pada tahun 1878 oleh Perroncito. Saat itu Perroncito melaporkan adanya suatu penyakit menular yang menyerang unggas dengan kemampuan menyebar sangat cepat dan mengakibatkan jumlah kematian yang tinggi. Selanjutnya pada tahun 1880 Rivolto dan Dalpatro menyebutnya sebagai fowl plaque dan mereka menggunakan istilah typhus exudation gallinarum yang dalam perkembangannya kini disebut dengan istilah highly pathogenic aviant influenza (HPAI) atau yang dikenal sebagai penyakit flu burung. Sebutan fowl plaque adalah salah satu terminologi yang digunakan secara historis sewaktu awal mulanya penyakit ini ditemukan pada unggas piara spesies Gallus gallus domesticus, sedangkan HPAI merupakan sebutan yang lebih tepat secara ilmiah untuk semua jenis burung yang berarti penyakit influenza yang sangat patogen pada jenis aves. Selain fowl plaque ada juga istilah peste aviarie, geflugelpest, brunswick bird plaque, brunswick disease, fowl grippe, atau bird grippe.
Penyakit flu burung diketahui menyebar ke berbagai belahan dunia terutama Eropa sejak awal 1900-an, dimana awal penularannya terjadi melalui penyelenggaraan pemeran unggas, kemudian bersifat endemi pada unggas peliharaan sampai tahun 1930, sejak saat itu terjadi penyebaran yang semakin meluas sampai ke benua lain seperti Amerika, Afrika Utara, Timur Tengah, sampai Rusia. Penyebarannya yang luas membuat orang semakin serius mendalami penyakit ini, begitu pula dengan laporan-laporan penyakit yang ada, namun orang belum begitu peduli dengan ancaman virus ini hingga pada tahun 2002 virus ini menjangkit banyak orang di Hongkong-Cina dan menelan banyak korban jiwa.
Flu burung merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh virus avian influenza (H5N1) yang tergolong dalam kategori virus flu A yang artinya virus ini dapat menjangkit baik manusia maupun hewan serta memiliki kemampuan mutasi gen yang tinggi, hal itulah yang membuat virus ini sangat mudah menyebar dan sulit diberantas, bahkan oleh Office International des Epizooties (OIE), flu burung dimasukkan sebagai salah satu dari 15 penyakit hewan menular yang paling berbahaya. Hingga kini diketahui diketahui bahwa virus dapat menginfeksi manusia melalui aves, kucing dan manusia.
Wabah flu burung sangat merugikan masyarakat, selain dari segi kesehatan terutama dalam bidang ekonomi. Hal ini disebabkan karena wabah flu burung membuat orang menjadi takut mengkonsumsi daging ayam serta takut bepergian di daerah yang dinyatakan positif endemi flu burung, sehingga secara tidak langsung melumpuhkan sektor peternakan dan pariwisata di Negara tersebut, padahal jika dilihat dari data FAO pada tahun 2003 Asia tenggara termasuk Indonesia merupakan tempat peternakan unggas terbesar kedua terbesar didunia, sehingga bias dibayangkan berapa banyak kerugian yang akan diderita apabila sektor peternakan unggas ini lumpuh.
Di Indonesia flu burung muncul pada tahun akhir tahun 2003, dimana virus ini diduga masuk ke Indonesia melalui impor daging ayam yang dilakukan secara ilegal. Hingga tahun 2005 tercatat temuan kasus flu burung sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia dimana di Indonesia ditemukan 99 kasus dengan 79 kematian.
Faktor Penyebab Terjadinya Flu Burung
A. Faktor Intrinsik (Host)
Yang dimaksud dengan faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari host. Host sendiri merupakan adalah organisme tempat hidup agent tertentu yang dalam suatu keadaan menimbulkan penyakit pada organisme tersebut. Jika membicarakan masalah penyakit flu burung pada manusia maka host yang dimaksud adalah manusia. Faktor intristik pada flu burung diantaranya kekebalan tubuh (imunitas) dan pola pikir seseorang.
Flu burung sebenarnya tidak mudah menular dari hewan yang telah terinfeksi, namun jalan untuk penularan itu akan semakin mudah apabila seseorang itu berada dalam kondisi yang lemah dan tidak memiliki system imun yang baik, begitu pula dengan pola pikir orang yang masih tidak percaya dan terkesan meremehkan bahaya penyakit ini.
B. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik atau faktor lingkungan merupakan faktor diluar dari host itu sendiri. Faktor lingkungan ini dibagi menjadi tiga:
  1. Lingkungan Biologis
    Faktor lingkungan biologis pada penyakit flu burung yaitu agent. Agent merupakan sesuatu yang merupakan sumber terjadinya penyakit yang dalam hal ini adalah virus aviant influenza (H5N1). Sifat virus ini adalah mampu menular melalui udara dan mudah bermutasi. Daerah yang diserang oleh virus ini adalah organ pernafasan dalam, hal itulah yang membuat angka kematian akibat penyakit ini sangat tinggi.
  2. Lingkungan Fisik
    • Suhu
      Pada suhu lingkungan yang tidak optimal baik suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang pada saat itu sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap mudah tidaknya virus menjangkiti seseorang. Selain itu virus flu burung juga memerlukan suhu yang optimal agar dapat bertahan hidup.
    • Musim
      Faktor musim pada penyakit flu burung terjadi karena adanya faktor kebiasaan burung untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat pada saat musim dingin. Misalkan burung-burung yang tinggal di pesisir utara Cina akan bermigrasi ke Australia dan Asia Tenggara pada musim dingin, burung-burung yang telah terjangkit tersebut akan berperan menularkan flu burung pada hewan yang tinggal di daerah musim panas atau daerah tropis tempat burung tersebut migrasi.
    • Tempat Tinggal
      Faktor tempat tinggal pada penyakit flu burung misalnya apakah tempat tinggal seseorang dekat dengan peternakan unggas atau tidak, di tempat tinggalnya apakah ada orang yang sedang menderita flu burung atau tidak,
  3. Lingkungan sosial
    Faktor lingkungan sosial meliputi kebiasaan sosial, norma serta hukum yang membuat seseorang berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya kebiasaan masyarakat Bali yang menggunakan daging mentah yang belum dimasak terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai makanan tradisional. Begitu pula dengan orang-orang di eropa yang terbiasa mengkonsumsi daging panggang yang setengah matang atau bahkan hanya seperempat matang. Selain itu juga pada tradisi sabung ayam akan membuat risiko penyakit menular pada pemilik ayam semakin besar.
Perjalanan Alamiah Penyakit Flu Burung
A. Fase Suseptibel
Adalah fase dimana seseorang belum terjangkit suatu penyakit namun memiliki faktor-faktor pendukung yang kuat untuk menimbulkan penyakit. Pada penyakit flu burung misalnya fase suseptibelnya adalah dimana seseorang atau sekelompok orang yang tinggal bersama dengan hewan yang telah terjangkit flu burung serta menunjukkan perilaku berisiko untuk tertular seperti tidak menggunakan masker saat bersama hewan tersebut, tidak mencuci tangan sebelum makan setelah bersentuhan dengan hewan yang terjangkit, atau mengkonsumsi daging ayam yang tidak matang sempurna.
B. Fase Presimptomatis
Fase presimptomatis adalah keadaan dimana seseorang telah terjangkit suatu penyakit yang dalam hal ini adalah flu burung, telah mengalami perubahan secara patologis, namun orang tersebut belum menunjukkan gejala-gejala klinis. Pada fase ini terjadi fase inkubasi dari virus yaitu fase dimana agent telah masuk ke tubuh host sampai sejak terjadinya gejala pertama.
C. Fase Klinis
Fase klinis adalah keadaan dimana seseorang telah mengalami perubahan anatomis dan fungsional tubuh dengan munculnya gejala-gejala klinis. Adapun gejala-gejala dari host yang terjangkit flu burung adalah:
  1. Pada unggas/burung:
    • Pada betina yang sedang bertelur, telurnya memiliki cangkang yang tipis kemudian berhenti bertelur dengan cepat.
    • Nafsu makan berkurang
    • Diare dan sering minum
    • Terjadi perubahan warna pada jenger menjadi kebiru-biruan
    • Nafas cepat dan berbunyi
    • Pendarahan terlihat pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu terutama tulang kering pada kaki
  2. Pada manusia
    • Demam dimana suhu badan sekitar atau di atas 38°C
    • Sesak nafas
    • Batuk dan nyeri tenggorokan
    • Radang paru
    • Infeksi mata
    • Pusing
    • Mual dan nyeri perut
    • Muntah
    • Diare
    • Keluar lendir dari hidung
    • Tidak ada nafsu makan
  3. Fase Ketidakmampuan
    Fase ketidakmampuan adalah fase dimana telah muncul komplikasi-komplikasi akibat adanya penyakit flu burung. Pada fase ini orang akan memiliki dua kemungkinan, kemungkinan pertama yaitu sembuh, dan kemungkinan yang kedua adalah orang tersebut meninggal.
Upaya Pencegahan Serta Penanggulangan
A. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang orang yang berisiko terjangkit flu burung. Adapun bentuk pencegahan primer tersebut diantaranya:
  1. Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat luas, terutama mereka yang berisiko terjangkit flu burung seperti peternak unggas.
  2. Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari terjadinya kontak antara hewan dengan mikroorganisme yang dalam hal ini adalah virus flu burung, seperti dengan melakukan desinfeksi serta sterilisasi pada peralatan ternak yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme pada peralatan ternak sehingga tidak menjangkiti hewan.
  3. Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk meningkatkan kekebalannya. Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan HPAI (H5H2) inaktif dan vaksin rekombinan cacar ayam atau fowlpox dengan memasukan gen virus avian influenza H5 ke dalam virus cacar.
  4. Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal.
  5. Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju lengan panjang, celana panjang dan sepatu boot saat memasuki kawasan peternakan.
  6. Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan untuk membunuh virus yang terdapat dalam daging ayam, karena dari hasil penelitian virus flu burung mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.
  7. Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan yang positif ditemukan virus flu burung pada ternak dalam jumlah yang banyak.
  8. Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai maupun sudah positif terjangkit flu burung.
  9. Melakukan surveilans dan monitoring yang bertujuan untuk mengumpulkan laporan mengenai morbilitas dan mortalitas, laporan penyidikan lapangan, isolasi dan identifikasi agen infeksi oleh laboratorium, efektivitas vaksinasi dalam populasi, serta data lain yang gayut untuk kajian epidemiologi.
B. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan pengobatan tepat. Dengan melakukan deteksi dini maka penanggulangan penyakit dapat diberikan lebih awal sehingga mencegah komplikasi, menghambat perjalanannya, serta membatasi ketidakmampuan yang dapat terjadi. Pencegahan ini dapat dilakukan pada fase presimptomatis dan fase klinis. Pada flu burung pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan screening yaitu upaya untuk menemukan penyakit secara aktif pada orang yang belum menunjukkan gejala klinis. Screening terhadap flu burung misalnya dilakukan pada bandara dengan memasang alat detektor panas tubuh sehingga orang yang dicurigai terjangkit flu burung bias segera diobati dan dikarantina sehingga tidak menular pada orang lain.
C. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk membatasi ketidakmampuan. Pada flu burung upaya pencegahan tersier yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengobatan intensif dan rehabilitasi.
http://sintanauli.files.wordpress.com/2007/12/flu-burung-1.jpg
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ana Puji Astuti dan Setyoningsih.Panduan Pembelajaran Pendidikan Sosiologi 1 SMA dan MA(Pati,2011),hal13
[2] Ana Puji Astuti dan Setyoningsih.Loc Cit1
[3] http://www.news-medical.net/health/what-is-bird-(H5N1)-(Indonesia).aspx
[4] http://fluburung.org/cara-cara-penularan-flu-burung.asp
[5] Nurheti Yuliarti.Mengingkap Rahasia Penyakit Flu Burung,Yogyakarta,2006,hal.13
[6] Ibid,hal.31
[7] http://fluburung.org/pengobatan-flu-burung.asp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar