TUGAS
APLIKASI KOMPUTER
“SEJARAH
FLU BURUNG”

NAMA :
ANDI WAHYUNI TENRI AJENG
NIM : NH0513005
KELOMPOK :
XII
PROGRAM DIPLOMA TIGA FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
Sejarah
Flu Burung
Flu burung sebenarnya bukanlah penyakit yang baru, penyakit
ini pertama kali ditemukan di Italia pada tahun 1878 oleh Perroncito. Saat itu
Perroncito melaporkan adanya suatu penyakit menular yang menyerang unggas
dengan kemampuan menyebar sangat cepat dan mengakibatkan jumlah kematian yang
tinggi. Selanjutnya pada tahun 1880 Rivolto dan Dalpatro menyebutnya sebagai fowl
plaque dan mereka menggunakan istilah typhus exudation gallinarum yang
dalam perkembangannya kini disebut dengan istilah highly pathogenic aviant
influenza (HPAI) atau yang dikenal sebagai penyakit flu burung. Sebutan
fowl plaque adalah salah satu terminologi yang digunakan secara historis
sewaktu awal mulanya penyakit ini ditemukan pada unggas piara spesies Gallus
gallus domesticus, sedangkan HPAI merupakan sebutan yang lebih tepat secara
ilmiah untuk semua jenis burung yang berarti penyakit influenza yang sangat
patogen pada jenis aves. Selain fowl plaque ada juga istilah peste aviarie,
geflugelpest, brunswick bird plaque, brunswick disease, fowl grippe, atau bird
grippe.
Penyakit flu burung diketahui menyebar ke berbagai belahan
dunia terutama Eropa sejak awal 1900-an, dimana awal penularannya terjadi
melalui penyelenggaraan pemeran unggas, kemudian bersifat endemi pada unggas
peliharaan sampai tahun 1930, sejak saat itu terjadi penyebaran yang semakin
meluas sampai ke benua lain seperti Amerika, Afrika Utara, Timur Tengah, sampai
Rusia. Penyebarannya yang luas membuat orang semakin serius mendalami penyakit
ini, begitu pula dengan laporan-laporan penyakit yang ada, namun orang belum
begitu peduli dengan ancaman virus ini hingga pada tahun 2002 virus ini
menjangkit banyak orang di Hongkong-Cina dan menelan banyak korban jiwa.
Flu burung merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh virus
avian influenza (H5N1) yang tergolong dalam kategori virus flu A yang artinya
virus ini dapat menjangkit baik manusia maupun hewan serta memiliki kemampuan
mutasi gen yang tinggi, hal itulah yang membuat virus ini sangat mudah menyebar
dan sulit diberantas, bahkan oleh Office International des Epizooties (OIE),
flu burung dimasukkan sebagai salah satu dari 15 penyakit hewan menular yang
paling berbahaya. Hingga kini diketahui diketahui bahwa virus dapat menginfeksi
manusia melalui aves, kucing dan manusia.
Wabah flu burung sangat merugikan masyarakat, selain dari
segi kesehatan terutama dalam bidang ekonomi. Hal ini disebabkan karena wabah
flu burung membuat orang menjadi takut mengkonsumsi daging ayam serta takut
bepergian di daerah yang dinyatakan positif endemi flu burung, sehingga secara
tidak langsung melumpuhkan sektor peternakan dan pariwisata di Negara tersebut,
padahal jika dilihat dari data FAO pada tahun 2003 Asia tenggara termasuk Indonesia
merupakan tempat peternakan unggas terbesar kedua terbesar didunia, sehingga
bias dibayangkan berapa banyak kerugian yang akan diderita apabila sektor
peternakan unggas ini lumpuh.
Di Indonesia flu burung muncul pada tahun akhir tahun 2003,
dimana virus ini diduga masuk ke Indonesia melalui impor daging ayam yang
dilakukan secara ilegal. Hingga tahun 2005 tercatat temuan kasus flu burung
sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia dimana di Indonesia
ditemukan 99 kasus dengan 79 kematian.
Faktor Penyebab Terjadinya Flu
Burung
A. Faktor Intrinsik (Host)
Yang
dimaksud dengan faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari host. Host
sendiri merupakan adalah organisme tempat hidup agent tertentu yang dalam suatu
keadaan menimbulkan penyakit pada organisme tersebut. Jika membicarakan masalah
penyakit flu burung pada manusia maka host yang dimaksud adalah manusia.
Faktor intristik pada flu burung diantaranya kekebalan tubuh (imunitas) dan
pola pikir seseorang.
Flu
burung sebenarnya tidak mudah menular dari hewan yang telah terinfeksi, namun
jalan untuk penularan itu akan semakin mudah apabila seseorang itu berada dalam
kondisi yang lemah dan tidak memiliki system imun yang baik, begitu pula dengan
pola pikir orang yang masih tidak percaya dan terkesan meremehkan bahaya
penyakit ini.
B. Faktor Ekstrinsik
Faktor
ekstrinsik atau faktor lingkungan merupakan faktor diluar dari host itu
sendiri. Faktor lingkungan ini dibagi menjadi tiga:
- Lingkungan
Biologis
Faktor lingkungan biologis pada penyakit flu burung yaitu agent. Agent merupakan sesuatu yang merupakan sumber terjadinya penyakit yang dalam hal ini adalah virus aviant influenza (H5N1). Sifat virus ini adalah mampu menular melalui udara dan mudah bermutasi. Daerah yang diserang oleh virus ini adalah organ pernafasan dalam, hal itulah yang membuat angka kematian akibat penyakit ini sangat tinggi. - Lingkungan Fisik
- Suhu
Pada suhu lingkungan yang tidak optimal baik suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang pada saat itu sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap mudah tidaknya virus menjangkiti seseorang. Selain itu virus flu burung juga memerlukan suhu yang optimal agar dapat bertahan hidup. - Musim
Faktor musim pada penyakit flu burung terjadi karena adanya faktor kebiasaan burung untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat pada saat musim dingin. Misalkan burung-burung yang tinggal di pesisir utara Cina akan bermigrasi ke Australia dan Asia Tenggara pada musim dingin, burung-burung yang telah terjangkit tersebut akan berperan menularkan flu burung pada hewan yang tinggal di daerah musim panas atau daerah tropis tempat burung tersebut migrasi. - Tempat
Tinggal
Faktor tempat tinggal pada penyakit flu burung misalnya apakah tempat tinggal seseorang dekat dengan peternakan unggas atau tidak, di tempat tinggalnya apakah ada orang yang sedang menderita flu burung atau tidak, - Lingkungan
sosial
Faktor lingkungan sosial meliputi kebiasaan sosial, norma serta hukum yang membuat seseorang berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya kebiasaan masyarakat Bali yang menggunakan daging mentah yang belum dimasak terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai makanan tradisional. Begitu pula dengan orang-orang di eropa yang terbiasa mengkonsumsi daging panggang yang setengah matang atau bahkan hanya seperempat matang. Selain itu juga pada tradisi sabung ayam akan membuat risiko penyakit menular pada pemilik ayam semakin besar.
Perjalanan Alamiah Penyakit Flu Burung
A. Fase
Suseptibel
Adalah
fase dimana seseorang belum terjangkit suatu penyakit namun memiliki
faktor-faktor pendukung yang kuat untuk menimbulkan penyakit. Pada penyakit flu
burung misalnya fase suseptibelnya adalah dimana seseorang atau sekelompok
orang yang tinggal bersama dengan hewan yang telah terjangkit flu burung serta
menunjukkan perilaku berisiko untuk tertular seperti tidak menggunakan masker
saat bersama hewan tersebut, tidak mencuci tangan sebelum makan setelah
bersentuhan dengan hewan yang terjangkit, atau mengkonsumsi daging ayam yang
tidak matang sempurna.
B. Fase Presimptomatis
Fase
presimptomatis adalah keadaan dimana seseorang telah terjangkit suatu penyakit
yang dalam hal ini adalah flu burung, telah mengalami perubahan secara
patologis, namun orang tersebut belum menunjukkan gejala-gejala klinis. Pada
fase ini terjadi fase inkubasi dari virus yaitu fase dimana agent telah masuk
ke tubuh host sampai sejak terjadinya gejala pertama.
C. Fase Klinis
Fase
klinis adalah keadaan dimana seseorang telah mengalami perubahan anatomis dan
fungsional tubuh dengan munculnya gejala-gejala klinis. Adapun gejala-gejala
dari host yang terjangkit flu burung adalah:
- Pada unggas/burung:
- Pada betina yang sedang bertelur, telurnya memiliki cangkang yang tipis kemudian berhenti bertelur dengan cepat.
- Nafsu makan berkurang
- Diare dan sering minum
- Terjadi perubahan warna pada jenger menjadi kebiru-biruan
- Nafas cepat dan berbunyi
- Pendarahan terlihat pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu terutama tulang kering pada kaki
- Pada manusia
- Demam dimana suhu badan sekitar atau di atas 38°C
- Sesak nafas
- Batuk dan nyeri tenggorokan
- Radang paru
- Infeksi mata
- Pusing
- Mual dan nyeri perut
- Muntah
- Diare
- Keluar lendir dari hidung
- Tidak ada nafsu makan
- Fase
Ketidakmampuan
Fase ketidakmampuan adalah fase dimana telah muncul komplikasi-komplikasi akibat adanya penyakit flu burung. Pada fase ini orang akan memiliki dua kemungkinan, kemungkinan pertama yaitu sembuh, dan kemungkinan yang kedua adalah orang tersebut meninggal.
Upaya Pencegahan Serta Penanggulangan
A. Pencegahan
primer
Pencegahan
primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang orang yang berisiko
terjangkit flu burung. Adapun bentuk pencegahan primer tersebut diantaranya:
- Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat luas, terutama mereka yang berisiko terjangkit flu burung seperti peternak unggas.
- Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari terjadinya kontak antara hewan dengan mikroorganisme yang dalam hal ini adalah virus flu burung, seperti dengan melakukan desinfeksi serta sterilisasi pada peralatan ternak yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme pada peralatan ternak sehingga tidak menjangkiti hewan.
- Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk meningkatkan kekebalannya. Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan HPAI (H5H2) inaktif dan vaksin rekombinan cacar ayam atau fowlpox dengan memasukan gen virus avian influenza H5 ke dalam virus cacar.
- Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal.
- Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju lengan panjang, celana panjang dan sepatu boot saat memasuki kawasan peternakan.
- Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan untuk membunuh virus yang terdapat dalam daging ayam, karena dari hasil penelitian virus flu burung mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.
- Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan yang positif ditemukan virus flu burung pada ternak dalam jumlah yang banyak.
- Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai maupun sudah positif terjangkit flu burung.
- Melakukan surveilans dan monitoring yang bertujuan untuk mengumpulkan laporan mengenai morbilitas dan mortalitas, laporan penyidikan lapangan, isolasi dan identifikasi agen infeksi oleh laboratorium, efektivitas vaksinasi dalam populasi, serta data lain yang gayut untuk kajian epidemiologi.
B. Pencegahan
sekunder
Pencegahan
sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah dan
menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan pengobatan tepat. Dengan
melakukan deteksi dini maka penanggulangan penyakit dapat diberikan lebih awal
sehingga mencegah komplikasi, menghambat perjalanannya, serta membatasi
ketidakmampuan yang dapat terjadi. Pencegahan ini dapat dilakukan pada fase
presimptomatis dan fase klinis. Pada flu burung pencegahan sekunder dilakukan
dengan melakukan screening yaitu upaya untuk menemukan penyakit secara aktif
pada orang yang belum menunjukkan gejala klinis. Screening terhadap flu burung
misalnya dilakukan pada bandara dengan memasang alat detektor panas tubuh
sehingga orang yang dicurigai terjangkit flu burung bias segera diobati dan
dikarantina sehingga tidak menular pada orang lain.
C. Pencegahan tersier
Pencegahan
tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk membatasi ketidakmampuan. Pada
flu burung upaya pencegahan tersier yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan pengobatan intensif dan rehabilitasi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ana Puji Astuti dan
Setyoningsih.Panduan Pembelajaran Pendidikan Sosiologi 1 SMA dan
MA(Pati,2011),hal13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar